• d9

    Sebuah Habitus

    Selera, kepercayaan, ide, pola pikir, dll, semua ditentukan dari atau di kelas sosial mana kita tumbuh

    Pertama kali, adekku yang menyarankan untuk menonton film ini, terselang lama bergelut dengan hal yang tak lazim, barulah aku bisa menontonnya kemarin dengan teman yang baru saja menghabiskan uangnya di sebuah distro di Kota Baru, kebetulan yang mengasyikan untuk ku tulis di sini.Pertama kali, adekku yang menyarankan untuk menonton film ini, terselang lama bergelut dengan hal yang tak lazim, barulah aku bisa menontonnya kemarin dengan teman yang baru saja menghabiskan uangnya di sebuah distro di Kota Baru, kebetulan yang mengasyikan untuk ku tulis di sini.

    Film ini kental dengan pesan moral, dengan kasat mata saja kita tahu ini adalah tentang politik Apartheid atau Xenophobia. Apalagi mengambil backround di Johanesburg, Afsel. Film ini -District 9- persis tempat 'pengasingan' di Afsel untuk para pekerja 'alien', tempat ini disebut Distric 6, kamu bisa membaca tuntas tentang hal ini dalam Newsweek di alamat http://www.newsweek.com/id/213805, disana juga dikatakan bahwa: pemisahan/segregasi selalu mencederai para perancang dan para korbannya. 

    Namun aku ingin menulis District 9 dari sisi lainnya. Yaitu 'Habitus;. Sebagaimana yang ku ketahui, habitus adalah konsep yang rumit namun bisa disederhanakan menjadi: sebuah corak dari pemikiran, perilaku dan selera sebagai hasil dari internalisasi dari kebudayaan atau struktur sosial. Konsep ini bisa dirunut hingga ke Aristoteles, Marcel Mauss dan di re-elaborasi oleh Pierre Bourdieu. Mauss mendefinisakan Habitus sebagai asepek budaya yang tertanam dalam pikiran atau dalam keseharian seseorang/kelompok. Habitus mencakup kebiasaan, kemampuan, gaya, selera dan semua pengetahuan non-diskursif yang khas dalam sebuah kelompok yang 'bekerja di bawah' ranah ideologi. Bourdieu memperluas bahwa kepercayaan dan watak juga termasuk dalam term Habitus. 

    Ok, aku sudahi 'basa-basi' teorinya. District 9 mengatakan kepada kita bahwa sebuah kelompok mempunyai sistem sendiri yang kaku, jika kelompok ini berhadapan dengan kelompok lain, maka disana ada 'hibrid'; mahluk persilangan yang bingung harus ngapain karena bingung menentukan identitas. Wikus Van de Merwe merupakan contoh untuk hal ini, dia bukanlah manusia dan bukan juga "Prawn", namun 'mahluk persilangan' ini dibutuhkan oleh kedua belah pihak sebagai jembatan, dan seperti layaknya sebuah jembatan, dia akan diinjak oleh kedua belah pihak. 

    Wikus dibutuhkan oleh manusia -MNU- sebagai pintu untuk menggunakan teknologi bangsa 'Prawn', karena teknologi -senjata- bangsa Prawn tak bisa dioprasikan oleh tangan manusia. Namun Wikus juga dibutuhkan oleh Prawn -Christopher- karena Wikus mengetahui dimana letak 'tabung cairan' bahan bakar kapal induk Prawn untuk bekerja. Hal ini tak jauh dari kehidupan di sekitarku, kita mendefinisikan orang lain -juga diri kita sendiri- dari 'senjata' yang dipakai. Kita menilai orang lain dari Habitus yang mereka lakukan dan kita sendiripun mendefinisakn diri dari habitus yang kita lakukan. 

    Merk baju apa yang kamu pake, HP apa yang kamu gunakan, kendaraan apa yang kamu tunggangi, tempat tongkrongan yang kamu datangi malahan kata-kata yang kamu gunakan menggambarkan kita keseluruhan. Aku selalu menganggap -dan memang seperti itu- orang yang menggunakan kata 'Gwe' untuk kata "Saya/Aku' adalah orang-orang Jakarta dan orang yang menggunakan kata itu tapi bukan dari Jakarta, maka dia adalah Wikus Van de Merwe, mahluk hibrid yang 'ingin' terlihat sebagai orang Jakarta. 

    Temanku yang menghabiskan uangnya di sebuah distro sebalum aku nonton film District 9 itu, dia memilih baju dengan corak dan gaya sesuai dengan habitusnya. Dia adalah seorang vokalis band, dia memilih baju dengan gambar microphone dan dia mengatakan: "Anjing! Baju ini gwe banget...its define me!". Nah kan?! 

    Sayangnya, Habitus menjadi standar nilai dan otomatis menjadi standar penilaian. Kita -Aku- menilai orang juga dari apa habitus orang itu. Kelompok pengguna BB, kelompok pemakai sepatu putih, kelompok yang suka pake headphone dan ipod, kelompok bercelana ketat, kelompok ber-hot pants, kelompok berkrudung, kelompok bercelana cingkrang, kelompok berrambut wanra-warni,..dll...dll. Walau ada kata 'Don't judge a book by its cover' tapi kemasanlah yang paling tampak dan gampang untuk menentukan apa isinya. 

    Persis, aku ketawa ngakak pas Kapolda Jatim mengatakan bahwa siapa saja yang melihat seseorang memakai sorban, maka orang itu harus dilaporkan...aku tiap hari liat bapakku pake sorban, masa aku harus melaporkan bapakku setiap hari si?! 

    Ok, kembali ke topik, bangsa Prawn memiliki teknologinya sendiri yang tak bisa digunakan oleh manusia dan seperti kebiasaan, budaya yang lebih 'tinggi' akan menyerap budaya yang lebih 'rendah' namun budaya yang lebih 'rendah' itu tidak akan hilang semuanya, tetap akan melakukan perlawanan/komodifikasi dengan bentuknya yang baru. Wikus akhirnya 'total' menjadi bangsa Prawn tapi tetap memiliki 'sisi' kemanusiaannya yang merindukan istrinya dan mengirimi bunga kaleng...Humm, kok tulisanku banyak tanda kutipnya ya?! ini menandakan bahwa bahasa yang ku pakai bukanlah bahasa Habitus ku, hahaha.... 

    Ok, sekarang lihatlah habitusmu, tentukan golonganmu dan jika dah tau golonganmu, pergilah dari dunia ini atau buatlah bunga kaleng dan kirim ke orang yang kamu cintai!..hohoho