• wargaduniakelasdua

    Kita adalah Warga Dunia Kelas Dua

    "Di era inflasi teori dari devaluasi dunia yang diteorikannya, kita tidak memiliki apapaun lagi" William Percy

    Pertanyaannya menjadi: 'apa yang tersisa dari kita?', fffuuh...sebenaranya aku nggak suka pertanyaan ontologis, namun bukankah se-absurd apapun sesuatu tetap harus ada suatu dasar yang masuk akal dan bisa diterima? Bertanya apa yang tersisa dari kita sama saja bertanya dunia apakah yang sekarang ada. Evolusi bisa berlangsung jika ada jaminan adanya sebuah kesempurnaan. Bukankah perubahan -evolusi- adalah sebuah upaya tanpa lelah dari alam -mahluk- untuk mencontoh/mendekati kesempurnaan -sang pencipta? Jika kamu berkata bahwa: '...tidak ada apapun di luar sana, tidak ada tujuan dalam penciptaan, kita bukan untuk apa-apa...', maka pertanyaanku tetap sama: 'apakah yang tersisa dari kita?'

    Ya, tulisan paragraf di atas setelah ku baca lagi agak aneh dibenakku, entahlah, terlalu mengawang dan nggak realistis kayaknya, tapi akhir-akhir ini, perubahan semakin cepat kurasakan. Dulu waktu aku kecil, menunggu waktu dari pagi hingga waktu dzuhur serasa lama, luas terbentang dan aku bisa membereskan banyak hal -membuat mobil mainan, nerbangin layangan dan membaca majalah Kuncung 3 edisi sekaligus, malahan masih sempat nyuri lima buah jambu monyet dari halaman belakang rumah tetangga- tapi sekarang aku sadar waktu telah lewat maghrib padahal masih bisa kurasakan pegalnya leher dan tekstur bantal saat bangun tadi paginya. WAKTU TERLALU CEPAT BERLALU dan mudah-mudahan ini hanya perasaanku saja. 

    Ok, sekarang saatnya kukatakan apa yang sedang terjadi di dunia ini -dari mataku. Kebanyakan dari kita adalah kelas kedua di masyarakat dunia saat ini, itu kata yang nggak bisa kuterima namun itulah yang terjadi. Coba katakan padaku, apakah dirimu bebas menyatakan ke-diri-an mu? Ijinkan aku menjamin bahwa kamu TIDAK bisa menyatakan ke-diri-an mu! Sudah banyak ahli di luar sana yang menentukan hidup kita, para ilmuan, psikolog, dokter,ekonom, ahli hukum, stylist, designer dll..dll yang menentukan apa yang terbaik bagi kita. Kita hanyalah 'pemakai' tangan kedua. William Percy menyebutnya dengan inflasi teori di tengah devaluasi dunia yang diteorikannya. -Nah kan?! aku aja ngutip William Percy untuk menyatakan pikiranku ini..shoot!!! 

    Mereka -para ilmuan dan konco semuanya itu- telah menentukan dengan sombongnya apa sebenarnya yang sedang terjadi, apa yang terbaik untuk dilakukan, apa yang seharusnya kita perhatikan, rasa dari hati kita yang terdalam telah mereka definisikan, pikiran paling murni dari otak kita telah mereka peta-kan, kemudian apa yang tersisa dari kita? 

    Kamu mangganti lampu toilet mu dengan lampu hemat listrik, menghemat bensinmu, mengganti plastik kresek dengan karton, menjadi vegetarian, semua itu dilakukan karena -misalnya- isu global warming, tapi apakah benar global warming itu terjadi? apakah data-data yang sampai di matamu itu benar-benar nyata? 

    Seorang anak muda usia 23 tahun meledakan dirinya dikerumunan orang, korban berjatuhan, kamu ikut menangis dan mengecam pelaku dan antek-anteknya. Media menyiarkan beberapa orang tersangka teroris tertembak mati, beberapa motif disebarkan, beberapa klaim digunakan. Apakah benar mereka teroris? Apakah kita membenci mereka karena mereka teroris? apakah benar kita memerangi teroris? 

    Kamu lebih memilih membeli susu dengan tulisan 'mengandung kalsium, DHA dan Kolin', lebih memilih shampoo yang berlabel "anti dandruff', membeli pembersih muka dengan tulisan "anti bakteri", menaiki kendaraan dengan tulisan "Hybrid, go green" dll...dll. Apakah kamu tahu apa yang kamu lakukan? Apakah benar semua itu? 

    Kita diam, mengkonsumsi banyak informasi, mempercayai lalu menjadikannya patokan tingkah laku, pola pikir dan selera kita. Kita selamanya tetap hanya menjadi peng-konsumsi (baca: hanya diam menunggu). 

    Bukan maksudku mengatakan bahwa para ilmuan dan semua konconya itu mengatakan kebohongan, karena aku tak bisa menutup mata bahwa kita berada di dunia ilmu pengetahuan/sains yang pesat yang diperoleh dari pengalaman para pelaku dan orang-orang sebelum kita. Namun aku sekedar mempertanyakan sejauh manakah mereka -ilmuan dan konconya- mengambil porsi ke-diri-an kita? karena tidak ada sebuah faham tentang kebenaran tanpa sebuah kepentingan! Dan jika kamu masih berpikir bahwa kebenaran itu hadir sebagai kebenaran, segeralah dirubah karena Tuhan sendiri mengatakan '...seorang nabi (pemegang kuasa kebenaran) mewartakan wahyu (kebenaran) dengan bahasa (kepentingan/ralitas) kaumnya...' dan sayangnya nabi zaman ini adalah para ilmuan dan semua konconya itu. 

    Weh!...aku kok ngalor-ngidul padahal aku sekedar ingin mengungkapkan kenapa waktu begitu terasa lebih cepat sekarang ini. Aku hanya ingin menegaskan, mungkin waktu yang terasa cepat karena aku adalah warga kelas dua masyarakat dunia yang hanya bisa mengkonsumsi, mengkonsumsi dan mengkonsumsi alias selamanya diam menunggu, banyak yang dilakukan tapi tetap saja pasif. Waktu terasa menciut karena diri ku yang kerdil, waktu berlalu cepat karena memang aku tak pernah berada 'di sini sekarang'! 

    Karena itu, sering sekali aku merasa di saat hari menuju malam, di depan meja kerja di sudut ruangan yang tersekat-sekat, komputer menyala dengan bunyi kipasnya yang lembut, kopi di cangkir telah habis, catatan tergeletak tak teratur, pegal di punggung dan lelah di mata tapi aku sadar aku tak melakukan apapun hari itu. Nah, pertanyaanku tetap sama. apakah yang masih tersisa dari kita? 

    Sumber bacaan: Last Self Help Book by William Percy.