• Vonnegut_Kurt_garden_800

    Teori Drama Kehidupan dari Kurt Vonnegut

    “But because we grew up surrounded by big dramatic story arcs in books and movies, we think our lives are supposed to be filled with huge ups and downs! So people pretend there is drama where there is none" - Kurt Vonnegut

    Beberapa tahun yang lalu, tepatnya di kota New York, Kurt Vonnegut berbicara tentang penulisan, kehidupan, dan banyak lainnya. Salah satunya dia menjelaskan mengapa orang memiliki kebutuhan untuk drama dalam hidup mereka, dia berkata: "People have been hearing fantastic stories since time began. The problem is, they think life is supposed to be like the stories. Let's look at a few examples".

    Kemudian dia menggambar sesuatu di papan tulis -gambar di atas. Dia menjelaskan bahwa ukuran waktu bergerak dari kiri ke kanan dan ukuran kebahagiaan dari bawah ke atas, lalu dia berkata: “Let's look at a very common story arc, the story of Cinderella”

    Cerita Cinderella 

    Kehidupan Cinderella dimulai dengan kekajaman yang mengerikan dari para saudara tiri, pokoknya Cinderella diperlakukan bak pembokat abis! Namun tiba-tiba dia mendapatkan undangan ke pesta dansa, di sini alur cerita mulai berubah yang kemudian diikuti dengan datangnya Ibu Peri yang membuatkannya gaun dan pelatihan, nggak hanya sampai di sana, Cinderella kemudian pergi ke pesta dan berdansa dengan pangeran! Weits...dramatis dan menakjubkan skaleee! Tapi sayangnya kemudian tengah malam datang dan Cinderella harus pergi. Si Neng Cinderella harus kembali ke kehidupan keseharian yang membosankan dan penuh kekejaman: dunia pembokat. Tapi keadaan tidaklah seburuk sebelumnya karena Cinderella punya pengalaman menyenangkan ketemu pangeran di pesta yang telah lalu. Kemudian ceritanya berlanjut, sang pangeran akhirnya menemukan Si Neng Cinderella, semua kekejaman, kebosanan dan ketidakberuntungan terhapus dari bagan. Happily ever after. 

    “People LOVE that story! This story arc has been written a thousand times in a thousand tales. And because of it, people think their lives are supposed to be like this". Kata Vonnegut.

    Kemudian Kurt Vonnegut menghapus papan tulis hingga bersih dan mulai menggambar bagan lainnya sambil berkata: "Sekarang mari kita lihat pada cerita populer lainnya: bencana".

    Cerita Bencana

    Sebuah hari yang biasa di sebuah kota yang biasa, tetapi sesuatu yang mengerikan terjadi, gempa bumi datang meluluh- lantakkan hampir setengah kota! Semua orang yang selamat berkumpul untuk melakukan tanggap darurat bencana, ada yang membuat posko, ada yang menjadi sukarelawan di rumah sakit, ada yang menyumbangkan harta, ada yang foto-foto lalu mengirimnya ke internet, ada yang menjadi guide 'wisata bencana'. Tetangga yang dulu marahan sekarang akrab, teman yang dulu saling benci sekarang ngobrol hangat, saingan bisnis saling berlomba membantu dengan semangat. Pokoknya semua perpecahan disatukan oleh bencana itu. Namun seiring kota itu diperbaiki dan mulai bangkit dari bencana, kehidupan keseharian datang kembali, tapi perhatikan, kehidupan keseharian menjadi lebih baik dari sebelumnya karena bencana itu membuat semua orang -pernah- dekat dan berbagi satu pengalaman yang menggetarkan bersama-sama. 

    “People LOVE that story! This story arc has been written a thousand times in a thousand tales. And because of it, people think their lives are supposed to be like this". Kata Vonnegut.

    Tapi masalahnya adalah, hidup yang nyata adalah seperti ini:

    Kehidupan Nyata Hidup kita berjalan bersama dengan hal-hal yang normal-normal saja, kadang naik kadang turun dan semua kejadian itu tidak tercatat dalam sejarah. Tidak ada hal yang begitu fantastis atau mengerikan dari kehidupan kita yang akan diceritakan selama seribu tahun kemudian. “But because we grew up surrounded by big dramatic story arcs in books and movies, we think our lives are supposed to be filled with huge ups and downs! So people pretend there is drama where there is none". Kata Vonnegut.

    Itu lah mengapa selalu terjadi kisah cinta yang diperumit, pertemanan dengan konflik yang nggak jelas, membangun imej diri yang sangat lebay atau merasa menjadi orang paling menderita sejagat-raya dan berhak mendapatkan balasan baik di masa depan, padahal cuman gara-gara pas mo bikin kopi, gelas kita dipake orang lain. Ok, intinya kita bertindak seperti semua hal yang terjadi pada kita adalah masalah besar. Kita -kita?! kamu kaliii...- sedang berusaha untuk membuat hidup kita menjadi dongeng, betul kan?

    Sumber bacaan: http://sivers.org/drama