Ayatullah VS Twitter
-

Desa Global dengan Nama: The Net
Saat wartawan dilarang masuk Iran, penduduk Iran menyiarkan berita yang lebih 'original' dan real-timeInformasi adalah kekuasaan, itulah yang kudengar selama ini, dan akhir-akhir ini kata-kata itu terbukti lebih nyata. Demokrasi Iran yang katanya kamuflase saja, karena di belakang demokrasi itu, suara Ayatullah adalah di atas segalanya dan Aku tak bakal menulis tentang itu, tapi bagaimana demokrasi yang sebenarnya telah terjadi di Iran, kekuasaan (baca: informasi) telah dipegang rakyat, sekuat apapun otoritas membatasinya.
Twitter diminta oleh Gedung Putih untuk menunda maintenance schedule-nya (dalam maintenance time biasanya twitter akan down dan tidak bisa update) yang seharusnya di lakukan tgl 16 Juni kemarin baru dilaksanakan tadi malam (17 Juni) pukul 2 pagi waktu Pacific, dikarenakan Gedung Putih ingin terus memantau perkembangan gejolak Iran, pada hari itu (16 Juni), Twitter untuk #IranElection adalah 221.744 twitt per jam, dan itulah puncak tertinggi dalam Twitter selama ini.
Tidak hanya twitter, Youtube pun kebanjiran video upload untuk tema “Iran Election”, satu hari mencapai 3000 video upload dan total menjadi 184.500 video upload. Blog post untuk tema Iran Election mencapai 2.250.000 post dalam 24 jam terakhir (termasuk blog ini, gilaaa...!!!). Google News pun kebagian imbasnya dengan meningkatnya link untuk berita tersebut sebesar 140.000 link di hari yang sama.
Untuk merespon perkembangan yang membahayakan otoritas Iran (baca: Ayatullah or Ahmadinejad), maka beberapa langkah diambil untuk menutup semua akses informasi ke/dari luar Iran, tapi tetap saja masyarakat Iran memilik jalan untuk mengakalinya. Langkah tersebut adalah ditutupnya Facebook sejak sabtu kemarin oleh Iran – dan hari ini telah di buka kembali. Menutup Google dengan alasan “Due to an error”, Yahoo dan Hotmail menyatakan ditutup untuk Iran. Garda Nasional (dewan tertinggi Iran) menyatakan akan menghitung ulang suara menanggapi gejolak pemilihan presiden yang di cap tidak sah oleh kalangan muda dan kalangan reformis Iran.
Amerika yang mempunyai kepentingan di Iran dan tak memiliki kedutaan di sana, sangat mengandalkan virtual-social-network dari para citizen-journalist untuk nge-digg berita dan progress. Keampuhan citizen-journalist telah mengalahkan jurnalis propesional manapun, di sisi ke-update-annnya, masif dan original.
Kemudahan akses internet, videophone dan social-virtual-network telah menyebarkan kekuasaan (baca: informasi) ke semua tangan masyarakat dan Iran sekarang benar-benar diuji oleh demokrasi yang sesungguhnya, membungkam suara rakyat berarti harus membungkam diri sendiri, Vox populi, vox dei!
Aku tak mau mempermasalahkan apakah pemilu Iran itu sah, demokrasi kamuflase atau apalah, aku hanya tertarik bagaimana kekuasaan (baca: informasi) telah berada diujung jari kita, aku dan dunia seluruhnya hanyalah berjarak dari mata ke layar komputer/laptop/hp. Kita bisa membaca/menonton/menilai dan kemudian meresponnya untuk ikut andil dalam perubahan.
Satu hal yang penting, bagaimanakah hasil akhir dari semua ini? Tak ada yang tahu apakah yang bakal terjadi di Iran yang sedang diuji oleh kekuatan rakyat yang bersenjatakan social-virtual network vis a vis pemerintah.
(Saat ku tulis judul di atas, sampai aku mengetikan kata ini, telah masuk 3987 twitt baru ttg #IranElection di twitterku...geez!)
Gudang Tulisan
- ▼ 2010
- ▼ February
- ► January
- ► 2009
- ► December
- ► November
- ► October
- ► September
- ► August
- ► July
- ► June
- ► May





