• The Pervert's Guide to Cinema

    'Cinema is the ultimate pervert art. It doesn't give you what you desire - it tells you how to desire'

    The Pervert's Guide to Cinema membawa penonton pada sebuah pembacaan yang unik, baru dan cerdas terhadap beberapa film terbaik yang pernah dibuat. 'The Pervert's Guide to Cinema' di-presenter-i (ini kalimat baku nggak si?) oleh Zizek sendiri, seorang filusuf dan psikoanalis dari Slovenia. Dengan pembawaannya yang bersemangat, gerakan tangan yang menggebu-gebu dan -aku sendiri heran- tak lelah-lelahnya ia mengoceh dan membuat otak pening tapi mencerahakan sepanjang film itu diputar. Zizek mengungkap bahasa tersembunyi -filsafat tersembunyi- dari sinema, mengungkap apa yang bisa dikatakan sebuah film tentang diri kita sendiri, sang penonton.

    'The Pervert's Guide to Cinema' memperkenalkan kita pada ide paling menarik dari Zizek tentang fantasi, kenyataan, seksualitas, subjektifitas, hasrat, materialitas dan bentuk film. Zizek menguraikan benang-kusut kebingungan dalam film-film David Lynch, atau menjungkirbalikkan segala hal yang Anda tahu tentang Hitchcock. Zizek 'menerangi' layar film dengan semangat, kecerdasan dan selera humor yang unik. 'The Pervert's Guide to Cinema' adalah pengaplikasian ide Zizek dalam 'hukum utama' film, majalah Times menyebutnya dengan :'penilaian ulang yang luar biasa dari film'

    Zizek jika membahas sebuah film -dalam 'The Pervert's Guide to Cinema'-, maka seting panggung/background saat dia berbicara adalah setingan film itu sendiri, atau setingan yang dibuat mirip dengan film yang sedang Zizek bahas, sehingga menimbulkan ilusi/gambaran bahwa Zizek berbicara dari 'dalam' film itu sendiri. Sutradara Sophie Fiennes yang berkolaborasi dengan Zizek ingin menunjukan bahwa TV dan film sebenarnya bisa mengkomunikasikan ide-ide yang kompleks. Zizek mengatakan: "Obsesi besarku adalah membuat hal-hal menjadi jelas. Aku bisa benar-benar menjelaskan sebuah pemikiran jika aku -entah bagaimana caranya- bisa menggambarkannya dengan sebuah adegan dalam film tersebut'. 'The Pervert's Guide to Cinema' memberi tahu kita tentang apa yang psikoanalisis dapat jabarkan mengenai film.

    'The Pervert's Guide to Cinema' terdiri dari tiga bagian. Fiennes mengatakan: 'Sebenarnya keseluruhan film adalah hal yang terbuka. Namun ada tiga bagian utama, tapi bisa juga lebih. Metode berpikir Zizek yang menyenangkan -karena selalu membangun sesuatu yang baru- menghubungkan keseluruhan film-nya tanpa aturan, kadang loncat kebelakang, loncat ke depan, interkoneksi antara beberapa bagian dengan bagian lainnya'.

    BAGIAN 1

    Apa yang bisa dipaparkan Marx Brothers kepada kita tentang cara kerja alam bawah sadar? Dan mengapa burung-burung menjadi aneh dan mengerikan dalam karya Hitchcock 'Birds'. Bagian 1 mengeksplorasi struktur fiksi yang menopang pengalaman kita akan realitas dan dunia lain yang kacau balau yang penuh dengan dorongan liar dan hasrat yang melemahkan pengalaman.

    Bagian 1 menyediakan cetak biru untuk mengkaji film dari kacamata psikoanalisa. Memaparkan konsep kunci pemikiran Freudian, seperti Ego, superego, Id, dorongan kematian dan libido. Zizek menunjukkan bagaimana bahasa visual film kembali mengungkapkan kegelisahan kita yang terdalam, membangkitkan keinginan kita, sementara secara bersamaan 'menyimpannya pada jarak yang aman, menundukannya tapi menjadikannya lebih jelas!'

    BAGIAN 2

    Ngomong-ngomong tradisi besar kisah romantis dalam dunia perfilman, bagian 2 menerangkan kepada kita apakah titik penting 'kisah romantis' ini dalam fantasi hubungan seksual. 'Kenapa hasrat libido kita membutuhkan gambaran virtual dari fantasi?' Kata Zizek.

    Zizek menggali kebenaran yang tidak mengenakan dibelakang mimpi sains-fiksi 'Solaris'-nya Tarkovsky, getaran yang menakutkan dari 'Vertigo'-nya Hitchcock. Kita dibukakan pada konsekuensi yang mengkhawatirkan, yang menerangkan pola-pikir patriarkial libidinal laki-laki, "Satu-satunya wanita yang baik adalah wanita yang sudah meninggal', kata Zizek, "Wanita pada akhirnya adalah perpanjangan alat masturbasi laki-laki', tambahnya. Zizek menekankan bahwa hal ini merupakan akibat langsung dari hasrat wanita yang memiliki pengaruh fundamental terhadap identitas laki-laki.

    Fantasi bisa menundukan dan sekaligus radikal mengacaukan. Dari 'Lost Highway'-nya David Lynch, 'Persona'-nya Ingmar Bergman hingga 'The Piano Teacher'-nya Michael Haneke. Fantasi adalah medan pertempuran dari perang antara jenis kelamin. Bagian 2 ini mempertanyakan struktur fantasi yang menjadikan perilaku seksual memungkinkan untuk dilakukan/dicapai/dipikirkan, tapi juga mempertanyakan apakah 'wabah' fantasi ini ditontonkan -oleh industri besar yang menggurita- sebagai pertahanan melawan kecemasan?

    BAGIAN 3

    Bagian 3 membahas penampilan. Penampilan tidak menipu, tetapi sangat efisien. Ketika Dorothy dan teman-temannya mengetahui bahwa The Wizard of Oz ternyata seorang lelaki tua di balik tirai, mereka tetap mengharapkan lelaki itu untuk bekerja dengan ilusi. Dan itulah yang dilakukan laki-laki tersebut: menggunakan ilusi! Zizek mengatakan, 'Ada sesuatu yang lebih nyata dalam ilusi daripada kenyataan di balik ilusi itu.'

    Dengan semangat ikonoklastik, Zizek membangkitkan teori Gnostik dunia kita sebagai 'realitas yang belum selesai' dimana 'Tuhan telah melakukan kecerobohan dalam pekerjaan penciptaannya'. Jika film itu sendiri adalah sebuah struktur yang dibangun melalui cuting, editing, dan penghilangan beberapa scene, maka demikian pula pengalaman subyektif kita sendiri. Ini mungkin mengapa kita bisa percaya pada film serta sistem kepercayaan lainnya dan ideologi.

    Zizek menunjukkan kepada kita bahwa kunci memahami film ternyata berada di luar cerita film itu sendiri, di luar 'cerita' yang kita saksikan. Apa yang menjadikan kenikmatan yang nyata dalam menonton film adalah hal yang ada di balik penafsirannya.

    Oia, sekdar info, Zizek mau datang ke Jakarta, Bandung dan Jogja pada bulan Juli 2010 lhoo, tunggu kabar dariku yaa...dan siapa yang ingin nonton 'The Pervert's Guide to Cinema'-nya Zizek, kontak aku, atau ingin membaca wawancara dengan Zizek yang cukup lucu, akses di: http://kunci.or.id/articles/904/

    Sumber tulisan:
    www.wikipedia.com, www.thepiratebay.com, www.iep.utm.edu/z/zizek.htm
    ps: Trimakasih untuk Adrozen yang mengenalkanku ke Zizek..:)