Januari '10
Mattafix - Big City Life
Mattafix - Big City Life
-

Refleksi Akhir Tahun bersama Mattafix - Big City Life
'Don't you wanna know me? Be a friend of mine I'll share some wisdom with you. Don't you ever get lonely, from time to time? Don't let the system get you down!'Lagu beraliran dance-hall ini mengalun dengan bass drum dan string bass shynteziser yang ber-ritme pelan namun memberikan nuansa yang kuat akan ke monoton-nan, sesekali terdengar trumphet shynteziser dan short-sequence distortion yang memberikan sedikit rasa kesendirian ditengah hiruk-pikuk nada dari instrumen lainnya. Irama ini dikombinasikan dengan lirik yang cerdas, jujur dan miris tentang sebuah kehidupan di sebuah kota besar, dan ya, kita tahu, sekarang dunia adalah sebuah 'Kota Besar' dan semua tempat berusaha menjadi sebuah 'Kota Besar'.
Lirik-lirik seperti "Pressure nah ease up no matter how hard me try', atau 'My heart have no base', 'Don't let the system get you down' dan 'Don't you ever get lonely, From time to time? ', merupakan lirik yang sangat khas menggambarkan kekecewaan kaum urban-imigran yang tak menemukan tempat berpijak untuk menyandarkan arti 'kehidupan', padahal, 'Kota Besar' itu sendiri adalah konsep dari visi manusia dalam menggapai mimpi, kehidupan dan kesejahteraan yang instan dan efisien. Selagi aku mengetikan hal ini, seorang teman meng-sms-ku perihal perjuangannya di sebuah kota besar: "aku perlahan, mati di tempat mimpiku ku gantungkan, mungkin mati dalam mengejar mimpi adalah inti dari kehidupan, walau itu berarti aku harus kehilangan diriku dan tak lagi mengerti apa yang sebenarnya ku impikan'
-
Video klip "Big City Life' dari Mattafix juga mengguratkan kekhawatiran dan kesedihan yang terjadi pada kehidupan kita secara keseluruhan. Marlon Roudette -vokalis- digambarkan bergerak -di setiap reff- layaknya boneka marionet diantara kepadatan kota, memperlihatkan 'boneka-boneka' urban yang mencoba menggapai mimpi yang dikendalikan tali kasat mata dari sistem yang ada. Bergerak dengan penuh kesibukan dan ke-riuh-an, tanpa menyadari sebuah sistem bergerak di belakang itu semua, dengan 'media' sebagai tali-tali kasat mata-nya. Sebagaimana dalam "The Pervert's Guide to Cinema", Slavoj Zizek mengatakan: "Masalahnya bukanlah apakah kita puas memenuhi hasrat kita. Media tidak memberitahukan apakah hasrat itu, tapi memberitahukan bagaimana kita harus ber-hasrat. Media mengatakan pada kita bahwa hasrat itu harus diajarkan'.
-
Ada 3 tokoh di video klip 'Big City Life' Mattafix, Si Gadis, Si Pengemis dan Si Skater. Si Pengemis yang duduk di trotoar menggambarkan kehidupan kelas menengah-urban pada umumnya . Si Pengemis menuliskan "Homeless and Hungry" di sebuah kertas dengan sebuah gelas plastik produk kedai kopi terkenal untuk menadahi uang sumbangan dari orang yang lewat, ternyata uang dari hasil ngemisnya ini, dia gunakan untuk mencuci baju, membeli air mineral untuk membasuh rambutnya dan kemudian dia pergi bekerja di sebuah toko. Hal ini membuatku berpikir bukankah setiap dari kita selalu "Homeless"? Merasa tak mempunyai rumah dimana rumah itu sendiri diartikan sebuah perlindungan, tempat kita diterima dan menerima orang lain, tempat kasih sayang dan rasa aman. Aku jadi teringat Dewa Bujana yang mengatakan "Home is where the heart is, some say. For others, it is where the hurt is. But be it the source of joy or pain, each of us must long for a familiar place, a place to go back to …a sanctuary'. Konsep "Kota Besar" mengalihkan arti rumah secara instan dan fraktal ke cafe, tempat hiburan, mall, televisi, virtual social network, tempat kerja dlsb, sehingga setiap dari kita akan bisa merasakan rumah dimanapun dan sekaligus tidak dimanapun.
-
Juga bukankah dari setiap kita selalu "Hungry"? Kelaparan akan sesuatu yang tak terpuaskan, selalu mengkonsumsi, selalu diam dan menerima, dunia bergerak dari satu 'rasa lapar' ke pemenuhan 'rasa lapar' lainnya, yang kemudian 'kenyang' datang sekejap untuk kembali merasa "lapar". Gaya pakaian, gadget, teknologi, kendaraan, berita, semua datang dan pergi dan kita tetap diam di ruang tunggu melihat semua itu bergerak. "Aku rasa, saat kita mempunyai sesuatu yang melebihi apa yang kita butuhkan, kita membutuhkan tempat yang lebih luas, oleh karena itulah aku meninggalkan kalian semua", itu yang dikatakan Eddie Vedder dalam "Society". Jadi ingat saat seorang kawan berkata saat dia sedang marah "Hey! aku butuh waktu untuk diriku sendiri, aku lagi ingin sendirian" ujarnya sambil mengunci pintu kamar, kemudian menyalakan internet dan mengupdate status, di twitter dan facebook, menonton TV, mendengarkan musik yang seirama dengan moodnya, dlsb. Bukankah ini menunjukan kita menyerahkan makna kesendirian kita di kaki dunia dan dengan seperti itu kita tidak pernah sendirian dan sekaligus selalu sendirian.Don't you ever get lonely, From time to time? ujar Mattafix.
-
Kembali ke video klip, ada tokoh ke dua, Si Skater Rapih yang membeli 'obat anti depresan' AKA Kokain atau obat apapun lah yang dia suntikan untuk mengurangi beban hidupnya, yang kemudian pacar/istrinya yang sedang hamil datang dan menyelamatkannya. Ini menunjukan pada kita, dalam kehidupan "Kota Besar' bukan hanya mimpi yang bisa kamu beli, tetapi juga obat jika mimpimu gagal kamu capai, bisa kamu beli juga, dengan begitu bukankah 'Kota Besar" terdengar indah?
-
Ada tokoh ke tiga, Si Gadis yang mencoba mencongkel jendela rumah orang lain yang kemudian dipergoki oleh ibunya -mungkin- dan kemudian mereka berpelukan dan pulang. Aku merasa potongan scene ini menceritakan perasaan "Worthless' adalah perasaan yang biasa kita temukan dalam kehidupan 'Kota Besar' dikarenakan hasrat destruktif adalah hasrat kreatif tanpa kasih sayang yang membawa prilaku kita ke prilaku tanpa makna, tanpa moral, 'worthless'.
-
Paradok-paradok ini, 'Homeless and Hungry', 'Depression and Worthless' dalam kehidupan 'Kota Besar' yang menuntut banyak hal dari kita namun memberikan sedikit makna membuat kita depresi yang ujung-ujungnya -kebanyakan temanku dan aku sendiri- menyalahkan diri sendiri dan berkata 'ada yang salah dengan diriku'. Yah, itu reaksi yang populer, tapi coba kita balik cara pandangnnya dengan mengatakan "Kamu gila jika kamu nggak depresi menghadapi keadaaan sekarang, depresi adalah reksi paling masuk akal!'.
-
''Big City Life'-nya Mattafix menggambarkan satu tahun yang telah kulewati dan kulihat, kegamangan, kehilangan makna, mimpi dan usaha untuk keluar/mengobati dunia di sekeliling kita yang semakin sakit, kebudayaan 'Kota Besar' telah membuat kita alien di planet sendiri dan alien terhadap diri sendiri, tapi seperti yang kita ketahui, krisis -apapun itu- adalah telah usangnya sistem pemikiran yang ada namun sistem pemikiran baru belum juga menyatu seluruhnya dalam kehidupan.
-
Kita semua sadar ada yang salah dengan dunia kita ini, kita ingin merubahnya, tapi kita melihat kesadaran itu parsial, malu-malu kucing dan penuh keragu-raguan. Persis cerita yang ku baca disebuah buku pengantar filsafat yang menceritakan seorang laki-laki yang menunggu di pintu surga, dia menunggu di pintu surga itu sejak muda hingga dia tua renta, kemudian datanglah sesorang dari surga bertanya: "Kok, kamu di sini terus? nggak masuk ke surga?", si laki-laki menjawab "Aku sedang menunggu, tidak ada yang mempersilahkanku masuk!", si orang dari surga itu kaget dan berkata: 'ha? nunggu dipersilahkan?'
-
Sekarang, di tahun ini, apakah kita akan tetap menunggu dipersilahkan masuk ke sebuah 'surga' dimana di pintu itu tak ada seorangpun yang menjaganya?
- Sumber bacaan: wikipedia, British Chart Music
| < Prev |
|---|
Gudang Tulisan
- ▼ 2010
- ▼ March
- ► February
- ► January
- ► 2009
- ► December
- ► November
- ► October
- ► September
- ► August
- ► July
- ► June
- ► May





